"The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched,they must be felt with the heart."

Helen Keller

Senin, 13 Desember 2010

Sup3r Dup3r K4sih

Saya juga masih terus belajar mengenai kasih para raksasa iman seperti John G.Lake, yang disebut penyembuh Pantekosta. Buat saya, bagaimana mereka, yaitu pendahulu-pendahulu kita yang dipercaya dengan kuasa luar biasa, saya perhatikan merangkak dengan yang namanya KASIH. Suatu hari ia dikunjungi oleh seorang yang mengaku: “Saya seorang Katholik tulen, tidak percaya mujizat, tidak punya iman. Apa yang bisa kamu lakukan terhadapku?” katanya menantang DR. Lake. Yang punya iman berdiri dan berkata, “imanku cukup untuk kita berdua meminta kepada Tuhan untuk kesembuhan tubuhmu!” Dia mengambil tongkat penyangga sang Katholik tulen itu dan berkata, “Have a good day! Pulanglah dengan damai!” Orang itu pergi meninggalkan kantor Rev. Lake tanpa menyadari bahwa dia sudah berjalan tanpa tongkat penyangga. Memperhatikan tamunya pergi tanpa sadar berjalan tanpa tongkat penyangga, sesudah sampai di lorong, Rev. Lake memanggilnya dan bertanya, “Hei, kamu apa masih membutuhkan ini?” Orang itu menoleh dan berteriak, “Ya ampun...what the h...!!(mengumpat kaget) Aku sembuh dan bisa jalan!!!”

Memunculkan kasih seperti itu tidak mudah bagi orang yang tidak menyadari bahwa setiap masalah adalah kesempatan. Tantangan biasanya merupakan pembangkitan emosi, penunjukkan kemampuan, pembenaran diri, kekuasaan, dsb. Tapi jika kita bisa bereaksi dengan kasih,

Kita akan dipakai Tuhan dengan kapasitas yang lebih besar

kita akan mampu dipercaya dengan kuasa

kita bisa membangkitkan iman

kita akan menjadi saksi bagi orang yang tidak percaya

Dan banyak hal lainnya yang kita dapatkan karena hukum terbesar yang disebut kasih yang tidak akan luntur ditelan jaman. Dari semuanya, yang terbesar adalah KASIH.

Kasih luar biasa besarnya kita pelajari dari Yesus. Dari jaman ke jaman, Ia mendemonstrasikan kuasa aliran KASIH itu kepada orang-orang yang sama sekali tidak mengenal-Nya, yang menolak-Nya, yang menghina-Nya, meghujat-Nya seperti Saulus dari Tarsus yang bahkan mengejar-ngejar orang Kristen untuk dibunuh. Di bawah ini saya temukan lagi kisah luar biasa dari keluarga seberang yang sama dikasihinya oleh Tuhan seperti kita, karena mereka juga adalah keturunan Abraham. Inilah kesaksiannya:

Ternyata untuk menjadi murid Yesus tidaklah selalu menyenangkan. Selama kita-kita masih hidup di dunia ini, kita juga harus siap untuk menghadapi aniaya, bahkan kehilangan nyawa sekalipun. Demikian yang dialami JK di kota Jeddah, Saudi Arabia, seperti dipaparkan di bawah ini. JK yang lahir 4 April di Jombang Jawa Timur ini adalah anak laki-laki yang terbesar dari 6 bersaudara dengan 4 kakak perempuan dan satu adik laki-laki. JK dibesarkan dalam keluarga yang penuh ketaatan. Ayahnya adalah seorang prajurit TNI yang terbiasa dengan disiplin keras, sehingga kekerasan dan disiplin itu otomatis sangat berpengaruh dalam keluarga mereka di bidang rohani. Lebih-lebih ayahnya dipercayakan oleh komandannya di bidang mental dan rohani prajurit TNI di Kodam V Brawijaya Jakarta.

Sewaktu masih sekolah JK termasuk dalam kategori anak bandel. Mungkin karena merasa dirinya anak seorang tentara, JK mengakui dia tidak pilih-pilih dalam berteman, walaupun mereka dari agama yang lain. “Buktinya saya pernah punya pacar seorang wanita Kristen, dan kami sempat merahasiakan hubungan kami dari keluarga. Tapi akhirnya orang tua saya mengetahuinya dan mengultimatum saya untuk segera memutuskannya atau keluar dari rumah. Ketika saya harus memilih memutuskan wanita tadi, tidak sedikitpun ada rasa marah padanya, malah dia mendoakan supaya saya dan keluarga diberkati dan dijamah oleh Tuhan. Memang orang Kristen itu penuh kasih dan panjang sabar,” ucapnya.

UNIVERSITAS KING ABDUL AZIZ JEDDAH
Setelah meraih gelar sarjana ekonomi di tahun 1992 dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta, ayahnya memasukkannya ke sebuah pesantren di Jombang. Tapi hanya bertahan 4 bulan saja, akhirnya keluar dengan alasan tidak dapat mengerti dengan pelajaran yang diberikan. Keluar dari pesantren, JK sempat menganggur selama 2 tahun hingga 1994. Tahun itu JK ikut ujian masuk di lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Arab (LIPIA). “Puji Tuhan, akhirnya saya diterima plus mendapat bea siswa untuk belajar di universitas King Abul Aziz Jeddah selama 3 tahun. Di Jeddah inilah saya ditangkap Tuhan Yesus, tepat di lantai 3 di apartemen saya,” kenangnya.

Mendengar JK diterima dan akan belajar di luar negeri, seluruh keluarga sangat gembira sekali. Jadilah di bulan November 1994 itu JK berangkat ke Jeddah, dan menempati sebuah “apartemen” di lantai 3, di jalan Pasalia I Jeddah, Saudi Arabia dekat dengan kota Mekkah. Karena di Mekkah setiap tahunnya ada ibadah haji, maka kesempatan tersebut tidak disia-siakan JK untuk mengukuhkan dirinya jadi seorang haji. Dan dalam tempo 1 minggu di tahun itu pula, dirinya resmi jadi seorang haji.

DIJAMAH TUHAN YESUS
Suatu hari di tahun 1996, kata JK, dia lupa persis tanggalnya, hanya yang pasti, ketika sedang berada di apartemen, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki berjenggot dan berjubah putih mendekatinya. Serta merta ketakutan timbul di dalam dirinya. “Saya tahu bahwa saat itu saya ada dalam keadaan sadar, dan tidak sedang mabuk atau bermimpi. Sepertinya Dia tahu kalau saya sedang ketakutan, Diapun langsung berbicara “Jangan takut. Aku datang untuk menyelamatkanmu”. Setelah dia berkata demikian, saya pun jatuh pingsan (kira-kira waktu itu jam 9 malam waktu Jeddah) dan baru sadar pukul 2 pagi waktu Jeddah”, paparnya.

Saya pun merenungkan siapa tadi yang datang? Kalau Dia seorang manusia, darimana masuknya, sebab pintu terkunci. Saya juga renungkan perkataan-Nya tadi, apa maksudnya dengan “menyelamatkan”? Kok Dia fasih sekali dalam berbahasa Indonesia? Darimana Dia tahu kalau saya orang Indonesia? Saat itu saya tidak sedang berada di Indonesia, tapi di Jeddah, yah paling tidak pasti pakai bahasa Arab lah, sampai akhirnya saya dimasuki suatu roh dan saya tidak tahu roh apakah itu.

Dengan penuh keyakinan, JK menyatakan bahwa dia sekarang sudah tahu kalau roh tersebut adalah Roh Kudus. Roh Kudus itulah yang membuat hati saya untuk mengambil kesimpulan bahwa yang datang tadi adalah Isa Almasih (Yesus Kristus). Saya pun tersungkur sambil memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa saya selama ini, dan ternyata telah mengikuti jalan yang tidak benar. Spontan saya berkata, “bagaimana saya harus menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya?” Bicara saya itu memang perlahan, tapi saya nggak mengerti kenapa saya bisa berbicara seperti itu, dan lagi saya tidak tahu Juru Selamat itu apa? Saya tidak tahu. Ini adalah hal-hal yang aneh.

Pagi itu juga, saya berdoa dalam bahasa Indonesia dengan lancar sekali. Doa saya waktu itu adalah, “Ya Allah saya percaya melalui FirmanMu bahwa saya adalah seorang yang berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah serta harus binasa, tetapi saya juga percaya melalui FirmanMu, Yesus Kristus telah mati untuk semua orang yang berdosa dan darahNya telah dicurahkan untuk menghapus dosa-dosa kami. Sekarang saya menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadiku. Penuhi saya dengan Roh KudusMu, trimakasih Tuhan Yesus, Amin”.

Setelah berdoa seperti itu, doa tersebut langsung saya catatkan di buku harian dan kembali saya merenung, “Kok saya begitu mudah berdoa dalam bahasa Indonesia, dan lagi doa itu seperti doa orang Kristen. Lantas saya berpikir lagi, yang berdoa itu saya atau siapa? Aneh, tiba-tiba hati saya penuh dengan sukacita dan damai sejahtera. Lantas sejak 1996 saya secara pribadi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya.

Di tahun 1997 JK pulang ke Jakarta, dengan sambutan yang meriah dari keluarga karena mereka tahu bahwa dirinya telah menjadi seorang haji dan patut dibanggakan. Mereka belum tahu kalau JK sudah bertemu Tuhan Yesus dan menjadi seorang Kristen. Inilah rahasia yang terus dirahasiakan. “Tidak seperti yang lain, saya tidak pernah memakai gelar haji di depan nama saya, dan membuat orang tua saya bertanya-tanya akan apa yang saya perbuat,” tandasnya.

Mungkin karena JK jebolan sarjana ekonomi dan pernah kuliah di Jeddah, membuatnya untuk mudah bekerja pada salah satu bank di Jakarta. Tapi baru kerja, 9 bulan kemudian JK kena PHK karena bank itu ditutup dan dilikuidasi pemerintah. Bersamaan itu, kedua orang tuanya memasuki masa pensiun, sehingga keluarga harus kembali ke Jombang Jawa Timur. Sementara JK memilih untuk tetap tinggal dan kost di Jakarta, tepatnya di jalan Kramat Raya Jakpus.

Selama hidup menjadi anak kost yang dibiayai keluarga dan belum kerja kembali, menghidupkan kembali kerinduan untuk mempelajari Alkitab (seperti janji hati saya ketika baru menerima janji Yesus). Setelah membeli sebuah Alkitab dan dipelajari, mulailah saya ikut kebaktian yang pertama di hari minggu di salah satu gereja di Jakpus. Selanjutnya terus masuk keluar gereja mulai dari yang Kharismatik, Anglikan, Pantekosta, Protestan sampai Katholik, hingga JK mengenal beberapa hamba Tuhan.

LEHER SAYA DIGOROK PAKAI CELURIT
Tanggal 8 April 1999, saya bertemu seorang Hamba Tuhan dari gereja di Jakarta yang bersedia membaptis saya di satu kolam renang. Pada 28 April tahun itu, saya datang berkunjung ke rumah paman saya di daerah Pasar Rebo Jaktim untuk mengakui bahwa saya telah menjadi orang percaya. Sampai di sana saya pun ditanya paman, “Bagaimana kabar kamu? Sudah lama tidak datang kemari.” “Puji Tuhan,” jawab saya. Mendengar jawaban saya itu, wajah paman berubah tidak ada senyum. Saya ulangi lagi, “Puji Tuhan!” sekarang ini saya menjadi pengikut Kristus. Paman saya tanya lagi, “Apa itu pengikut Kristus?” Dengan kasar sekali. Saya menegaskan lagi, “Sekarang saya sudah menjadi seorang Kristen.”

Tanpa ada komentar lagi, mulailah pukulan dari paman yang bertubuh besar ke tubuh saya yang kecil. Saya terjatuh, lalu kesempatan itu dipakainya untuk mengambil celurit yang tergantung di tembok. Lalu dari arah belakang paman mengalungi leher saya dengan celurit itu, terus berkata, “Kamu sudah murtad! Kamu sudah menjadi kafir, dan orang kafir itu kalau dipotong lehernya dan diminum darahnya adalah halal.”

Mendengar itu saya merasa bahwa saya tidak akan hidup lagi. Tapi tiba-tiba dengan pertolongan dan kekuatan dari Tuhan, tangan saya pun cepat bergerak menangkap celurit yang sangat tajam itu untuk saya tarik ke depan dengan kedua tangan saya ini. Begitu terlepas dari celurit tajam itu, lalu saya lari keluar dan dikejar oleh paman, puji Tuhan Tuhan menghalanginya untuk mengejar saya. Taksi saya stop dan supirnya bertanya, “Mau dibawa kemana?” Tolong bawa ke rumah sakit mana saja, sementara darah terus membasahi pakaian saya sambil saya memegangi leher dengan keadaan jari tangan saya yang juga hampir putus karena menahan celurit yang tajam tadi.

Selama di taksi saya berseru, “Tuhan, kalau memang Kau mau ambil saya, ambillah Tuhan, jangan lama-lama Tuhan.” Taksi diarahkan ke RS Restu Bunda di Pasar Rebo. Saya dibawa masuk dengan alat dorongan, tapi dokter tidak langsung menolong, dokter masih menanyai saya dengan beberapa pertanyaan sebab dikiranya saya seorang penjahat yang jadi korban. Tapi puji Tuhan, seorang perawat digerakkan untuk melayani saya lalu membersihkan luka di leher dan tangan saya. Dan tak lama kemudian datang juga dokter tersebut untuk menjahit luka-luka tersebut.

Setelah dijahit dan saya mampu untuk duduk, maka dokter itu kembali mengajak saya berbincang mengapa dan apa yang terjadi dengan saya. Saya pun bercerita bahwa paman telah menggorok leher ini hanya saya telah menjadi orang percaya. Tak saya sangka-sangka dokter itu juga marah dan mengatakan saya sudah menjadi kafir. Lalu saya jawab semua perkataan dokter tersebut dengan mempersilakan membaca beberapa ayat yang ada di Alkitab. Akhirnya dokter tersebut terdiam merenung. Untuk mengalihkan pembicaraan sayapun bertanya, “Dokter berapa biaya yang harus saya bayar?” Tetapi apa yang terjadi? Ternyata Tuhan bekerja hebat sekali, sebab dokter tersebut mengatakan tidak usah dibayar dan silakan pulang ke rumah. Saya mengucap syukur kepada Tuhan.

TUHAN PAKAI SAYA UNTUK MELAYANINYA
Saya langsung telepon orang tua di Jombang dan bercerita kepadanya atas semua perbuatan paman atas saya setelah mengetahui saya orang percaya. Saya pun dimarahi ayah sambil melarang untuk bertemu semua keluarga dan teleponpun ditutup. Sejak saat itu saya tidak mendapat bantuan keuangan lagi, akibatnya saya tidak dapat untuk meneruskan untuk membayar uang kost.

Dengan bermodalkan sebuah Alkitab dan beberapa lembar pakaian, mulailah saya tidur di mesjid-mesjid dan stasiun KA dan tempat lainnya. Pertama saya tidur di stasiun KA Senen, lalu pindah di lapangan Banteng. Kehidupan saya benar-benar jadi gembel dan gelandangan, kerap kali saya nggak makan berhari-hari dan ternyata Tuhan tidak membiarkan saya. Suatu hari saya dapat kabar dari teman gelandangan juga bahwa ada suatu tempat bahwa di sana disediakan makanan gratis untuk orang-orang jalanan, yaitu di rumah seorang dokter juga sebagai hamba Tuhan di jalan Proklamasi Jakpus.

Hampir setiap hari saya makan di sana sepuasnya, di samping iman saya juga terus bertumbuh, di antara para gembel dan gelandangan saya membentuk satu kelompok doa bersama dengan mengambil lokasi di lapangan Banteng Jakpus setiap Sabtu pukul 11:00-13:00 WIB. Waktu itu pertama kali dilayani dari tim Doulos, lama kelamaan kami pun dapat melakukan pelayanan sendiri. Pada suatu hari seorang hamba Tuhan melihat kelompok doa yang saya pimpin dan menawarkan kepada saya untuk melayani juga di suatu desa di Sukabumi. Dan sejak itulah hingga sekarang Tuhan pakai saya untuk bersaksi dan melayani di beberapa tempat. Haleluya, demikianlah kesaksian saya, Tuhan memberkati.



Lepas dari beberapa argumentasi dan tuduhan di internet bahwa kisahnya adalah palsu, kita tahu bahwa kisah seperti ini tidak bisa dibuat-buat dengan mudah. Ada kasih besar yang telah terlibat dalam hidup JK, dan Tuhan mengasihi seluruh keluarganya juga; bukan untuk kristenisasi, tetapi untuk suatu keselamatan kekal. Memang jika seseorang belum pernah mengalaminya sendiri, maka ia tidak akan pernah percaya. Mengapa tidak meminta Tuhan sendiri mengasihi Anda?

Saya pernah mendengar kisah seorang wanita muda yang tidak pernah bisa tidur selama 9 bulan. Dalam waktu 9 bulan itu, ia tidak pernah memejamkan mata di malam hari atau siang hari. Badannya makin kurus dan mengalami stress tinggi. Sampai akhirnya dalam keputusasaan terakhirnya dia berdoa, “Tuhan Buddha, Tuhan Muhammad, Tuhan Isa, Tuhan Kong Hu Cu, Tuhan lain-lain, siapakah di antara Engkau yang adalah benar-benar Tuhan, datanglah dan temuilah aku. Jika Engkau menyembuhkan aku dan bisa membuatku tidur, maka aku akan percaya kepadaMu.” Malam itu, ia bisa tidur dengan pulas saat Yesus datang menjamahnya.

Jika seseorang datang dalam desperado dan kesungguhan, dalam kemurnian, dalam kehausan hati, dan bukan hanya menguji, Kasih itu akan datang. Ia yang adalah KASIH, tidak dapat menyangkali Diri-Nya. Dan kita harus belajar mengasihi, terus mengasihi walaupun dihina, dicela, dinista, dikhianati, dipukul, difitnah, bahkan sampai diupayakan untuk dibunuh.



Dan yang terbesar adalah… KASIH

Love never fails

From: Maq's Hearth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar